Menu

Mode Gelap
Digerebek Saat Asyik Sabung Ayam, Seorang Pria Diamankan Tim URC Resmob Polres Toraja Utara di Tallunglipu ​ Sarambu Tonapa, Pesona Tersembunyi di Salu Baruppu Toraja Utara Pelarian Ayah Tiri Berakhir, Tim Resmob Polres Toraja Utara Bekuk Terduga Pelaku Kekerasan Seksual Anak Polres Tator Sebut Tidak Tertutup Kemungkinan Ada TSK Lain dalam Kasus Mafia BBM yang Sudah Dilimpahkan ke Kejaksaan Wakil Ketua KPK RI Tegaskan Pejabat Tidak Boleh Alergi Dengan Media Gebrak Panggung Dunia, Putra Asal Majene Raih Gelar Grand Champion ALOHA di Panama

Headline

Bandingkan dengan Bandung, Tokoh Masyarakat Balla Ungkap Alasan Tolak Panas Bumi di Tana Toraja

badge-check


					Bandingkan dengan Bandung, Tokoh Masyarakat Balla Ungkap Alasan Tolak Panas Bumi di Tana Toraja Perbesar

TANA TORAJA, PEDOMAN INDONESIA – Gelombang penolakan terhadap rencana proyek strategis nasional kembali mencuat di Tana Toraja. Masyarakat Lembang Balla dan sekitarnya menyatakan sikap tegas menolak rencana pembangunan proyek Geothermal (panas bumi) yang dijadwalkan akan dikerjakan di Kecamatan Bittuang dalam waktu dekat.

Keputusan ini merupakan hasil konsolidasi masyarakat adat Balla yang berlangsung di Tongkonan Tondonna, Selasa (27/01/2026). Salah satu tokoh masyarakat Balla, Markus Raya Rada, menegaskan bahwa seluruh warga telah mencapai kesepakatan bulat untuk menjaga wilayah mereka dari aktivitas pertambangan panas bumi tersebut.

Penolakan ini didasari oleh kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan dan keselamatan pemukiman. Markus mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan studi banding ke Bandung, Jawa Barat, bulan lalu bersama Dinas Lingkungan Hidup dan tokoh masyarakat Bittuang lainnya untuk melihat langsung operasional Geothermal di sana. Namun, hasil pengamatan lapangan justru memicu keraguan mendalam.

Menurut Markus, terdapat perbedaan signifikan antara lokasi yang dipelajari dengan kondisi di Lembang Balla. Di Bandung, area yang digunakan hanya berkisar 20 hektare, sementara survei di Bittuang mencakup luasan yang sangat besar, mencapai 13.000 hektare.

Selain itu, aspek tata letak infrastruktur menjadi poin utama yang dikhawatirkan warga. Di lokasi studi banding, infrastruktur pipa berada jauh dari pemukiman warga, sementara di Bittuang yang padat penduduk, pipa-pipa besar berisiko melintasi wilayah hunian masyarakat.

Berdasarkan pantauan Pedoman Indonesia di lokasi konsolidasi, ratusan warga berkumpul dan melakukan orasi secara bergantian untuk menyuarakan aspirasi mereka.

“Kami masyarakat adat Balla menolak keras rencana pembangunan geothermal di kampung kami,” ujar Mika, salah satu warga dalam orasinya yang disambut riuh oleh massa yang hadir.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat menyatakan akan terus mengawal penolakan ini demi menjaga ruang hidup dan kelestarian adat mereka.

Baca Lainnya

Polres Tator Sebut Tidak Tertutup Kemungkinan Ada TSK Lain dalam Kasus Mafia BBM yang Sudah Dilimpahkan ke Kejaksaan

1 Agustus 2026 - 08:50 WIB

Gebrak Panggung Dunia, Putra Asal Majene Raih Gelar Grand Champion ALOHA di Panama

29 Juli 2026 - 15:07 WIB

Mobil Pikap Masuk Padang Rumput Ollon, Warganet Khawatir Keindahan Wisata Tana Toraja Rusak

26 Juli 2026 - 23:12 WIB

Pemda Toraja Utara Dapat Hadiah Istimewa dari Pemprov Sulsel di HUT ke-18, Terima Bantuan Puluhan Miliar

25 Juli 2026 - 18:57 WIB

DPRD Tator Sura’ Matasa’ Apresiasi Kinerja Kepala Dinas PUPR yang Mampu Berinovasi di Tengah Efisiensi Anggaran

13 Juli 2026 - 20:39 WIB

Trending di Headline