Menu

Mode Gelap
Babak Baru Kasus Eks RSUD Pongtiku: Polisi Periksa Anggota DPRD, Pemilik Alat Berat, hingga Kadis Sosial Bisnis Haram di Balik Layar Ponsel: Mahasiswa di Rantepao Diciduk Polisi Saat Transaksi Sabu Cegah Kebakaran Hutan, Kepala Lembang Paku Masanda Ajak Warga Laporkan Pelaku Polres Toraja Utara Ungkap Kasus Penemuan Mayat Ibu dan Bayi di Tallunglipu DPRD Tator Rekomendasikan Penghentian Sementara SPPG Batupapan 1 dan Keluarkan 7 Poin Penting Usai Dugaan Kasus Keracunan MBG DPRD Tator Minta Pemda Hentikan Sementara Program MBG Usai Ratusan Siswa Diduga Keracunan

Headline

Bandingkan dengan Bandung, Tokoh Masyarakat Balla Ungkap Alasan Tolak Panas Bumi di Tana Toraja

badge-check


					Bandingkan dengan Bandung, Tokoh Masyarakat Balla Ungkap Alasan Tolak Panas Bumi di Tana Toraja Perbesar

TANA TORAJA, PEDOMAN INDONESIA – Gelombang penolakan terhadap rencana proyek strategis nasional kembali mencuat di Tana Toraja. Masyarakat Lembang Balla dan sekitarnya menyatakan sikap tegas menolak rencana pembangunan proyek Geothermal (panas bumi) yang dijadwalkan akan dikerjakan di Kecamatan Bittuang dalam waktu dekat.

Keputusan ini merupakan hasil konsolidasi masyarakat adat Balla yang berlangsung di Tongkonan Tondonna, Selasa (27/01/2026). Salah satu tokoh masyarakat Balla, Markus Raya Rada, menegaskan bahwa seluruh warga telah mencapai kesepakatan bulat untuk menjaga wilayah mereka dari aktivitas pertambangan panas bumi tersebut.

Penolakan ini didasari oleh kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan dan keselamatan pemukiman. Markus mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan studi banding ke Bandung, Jawa Barat, bulan lalu bersama Dinas Lingkungan Hidup dan tokoh masyarakat Bittuang lainnya untuk melihat langsung operasional Geothermal di sana. Namun, hasil pengamatan lapangan justru memicu keraguan mendalam.

Menurut Markus, terdapat perbedaan signifikan antara lokasi yang dipelajari dengan kondisi di Lembang Balla. Di Bandung, area yang digunakan hanya berkisar 20 hektare, sementara survei di Bittuang mencakup luasan yang sangat besar, mencapai 13.000 hektare.

Selain itu, aspek tata letak infrastruktur menjadi poin utama yang dikhawatirkan warga. Di lokasi studi banding, infrastruktur pipa berada jauh dari pemukiman warga, sementara di Bittuang yang padat penduduk, pipa-pipa besar berisiko melintasi wilayah hunian masyarakat.

Berdasarkan pantauan Pedoman Indonesia di lokasi konsolidasi, ratusan warga berkumpul dan melakukan orasi secara bergantian untuk menyuarakan aspirasi mereka.

“Kami masyarakat adat Balla menolak keras rencana pembangunan geothermal di kampung kami,” ujar Mika, salah satu warga dalam orasinya yang disambut riuh oleh massa yang hadir.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat menyatakan akan terus mengawal penolakan ini demi menjaga ruang hidup dan kelestarian adat mereka.

Baca Lainnya

Babak Baru Kasus Eks RSUD Pongtiku: Polisi Periksa Anggota DPRD, Pemilik Alat Berat, hingga Kadis Sosial

10 September 2026 - 18:13 WIB

Cegah Kebakaran Hutan, Kepala Lembang Paku Masanda Ajak Warga Laporkan Pelaku

10 September 2026 - 08:43 WIB

Polres Toraja Utara Ungkap Kasus Penemuan Mayat Ibu dan Bayi di Tallunglipu

9 September 2026 - 17:57 WIB

DPRD Tator Rekomendasikan Penghentian Sementara SPPG Batupapan 1 dan Keluarkan 7 Poin Penting Usai Dugaan Kasus Keracunan MBG

5 September 2026 - 08:24 WIB

DPRD Tator Minta Pemda Hentikan Sementara Program MBG Usai Ratusan Siswa Diduga Keracunan

4 September 2026 - 12:35 WIB

Trending di Headline