Menu

Mode Gelap
Buka Expo Satpol PP dan Damkar, Bupati Torut Tekankan Profesionalisme dan Larang Politik Praktis Bupati Torut Bakal Tindak Tegas ASN dan PPPK yang Main Medsos Saat Jam Kerja HUT Satpol PP Torut Bawa Berkah Bagi Pelaku UMKM Perkuat Toleransi, Bupati Toraja Utara dan FKUB Lakukan Studi Tiru ke Pontianak dan Singkawang Raih WTP 11 Kali Beruntun, Bupati Torut: Ini Standar Tata Kelola, Bukan Prestasi Luar Biasa Nakhodai PWI Sulsel, Suwardi Thahir Komitmen Bangun Organisasi Inklusif di Era Digital

Headline

Bandingkan dengan Bandung, Tokoh Masyarakat Balla Ungkap Alasan Tolak Panas Bumi di Tana Toraja

badge-check


					Bandingkan dengan Bandung, Tokoh Masyarakat Balla Ungkap Alasan Tolak Panas Bumi di Tana Toraja Perbesar

TANA TORAJA, PEDOMAN INDONESIA – Gelombang penolakan terhadap rencana proyek strategis nasional kembali mencuat di Tana Toraja. Masyarakat Lembang Balla dan sekitarnya menyatakan sikap tegas menolak rencana pembangunan proyek Geothermal (panas bumi) yang dijadwalkan akan dikerjakan di Kecamatan Bittuang dalam waktu dekat.

Keputusan ini merupakan hasil konsolidasi masyarakat adat Balla yang berlangsung di Tongkonan Tondonna, Selasa (27/01/2026). Salah satu tokoh masyarakat Balla, Markus Raya Rada, menegaskan bahwa seluruh warga telah mencapai kesepakatan bulat untuk menjaga wilayah mereka dari aktivitas pertambangan panas bumi tersebut.

Penolakan ini didasari oleh kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan dan keselamatan pemukiman. Markus mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan studi banding ke Bandung, Jawa Barat, bulan lalu bersama Dinas Lingkungan Hidup dan tokoh masyarakat Bittuang lainnya untuk melihat langsung operasional Geothermal di sana. Namun, hasil pengamatan lapangan justru memicu keraguan mendalam.

Menurut Markus, terdapat perbedaan signifikan antara lokasi yang dipelajari dengan kondisi di Lembang Balla. Di Bandung, area yang digunakan hanya berkisar 20 hektare, sementara survei di Bittuang mencakup luasan yang sangat besar, mencapai 13.000 hektare.

Selain itu, aspek tata letak infrastruktur menjadi poin utama yang dikhawatirkan warga. Di lokasi studi banding, infrastruktur pipa berada jauh dari pemukiman warga, sementara di Bittuang yang padat penduduk, pipa-pipa besar berisiko melintasi wilayah hunian masyarakat.

Berdasarkan pantauan Pedoman Indonesia di lokasi konsolidasi, ratusan warga berkumpul dan melakukan orasi secara bergantian untuk menyuarakan aspirasi mereka.

“Kami masyarakat adat Balla menolak keras rencana pembangunan geothermal di kampung kami,” ujar Mika, salah satu warga dalam orasinya yang disambut riuh oleh massa yang hadir.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat menyatakan akan terus mengawal penolakan ini demi menjaga ruang hidup dan kelestarian adat mereka.

Baca Lainnya

Buka Expo Satpol PP dan Damkar, Bupati Torut Tekankan Profesionalisme dan Larang Politik Praktis

9 Juni 2026 - 14:19 WIB

Bupati Torut Bakal Tindak Tegas ASN dan PPPK yang Main Medsos Saat Jam Kerja

8 Juni 2026 - 20:34 WIB

Raih WTP 11 Kali Beruntun, Bupati Torut: Ini Standar Tata Kelola, Bukan Prestasi Luar Biasa

4 Juni 2026 - 16:00 WIB

Nakhodai PWI Sulsel, Suwardi Thahir Komitmen Bangun Organisasi Inklusif di Era Digital

2 Juni 2026 - 18:20 WIB

Wakil Bupati Toraja Utara Hadiri Serah Terima Bantuan Kemasyarakatan Berupa Sapi Kurban di Masjid Nurul Taqwa Bolu

26 Mei 2026 - 19:12 WIB

Trending di Headline