TATOR, PEDOMANINDONESIA – Warga Lembang Tapparan Utara, Kecamatan Rantetayo, Kabupaten Tana Toraja, mempertanyakan progres proyek rabat beton yang dianggarkan melalui Dana Desa tahun 2024. Pasalnya, meski dananya dikabarkan telah cair 100 persen, pekerjaan fisik di lapangan hingga kini belum dimulai.
Hal ini diungkapkan oleh seorang warga berinisial HB saat ditemui di lokasi proyek pada Selasa (5/8/2025).
“Materialnya memang sudah ada sebagian, tapi sampai sekarang belum dikerjakan. Nilai proyek ini kabarnya ratusan juta, tapi saya tidak tahu pasti jumlah pastinya. Kalau mau lebih jelas, silakan tanyakan langsung ke kantor lembang,” ujar HB.
Ia juga berharap proyek ini segera dituntaskan karena merupakan jalan penghubung penting bagi warga.
“Semoga belum cair semua, dan segera diselesaikan. Jalan ini sangat dibutuhkan karena menghubungkan ke Kampung Panglion dan Tagari Sapan Panglion,” tambahnya.
Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Lembang Tapparan Utara, Riharyance Tanggalayuk, membenarkan bahwa proyek tersebut belum dikerjakan. Ia menyebut beberapa alasan keterlambatan, mulai dari kondisi cuaca hingga kesibukan warga menghadiri pesta adat.
“Benar, proyek rabat beton ini dianggarkan sekitar Rp260 juta dari Dana Desa 2024. Tapi belum dikerjakan karena musim hujan dan warga yang akan mengerjakan masih sibuk dengan pesta,” ujar Riharyance saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Riharyance juga menyebut bahwa meski dana sudah cair 100 persen, anggaran tersebut telah digunakan untuk pembelian material dan bahan bangunan.
“Dananya memang sudah cair, tapi dipakai untuk belanja bahan seperti pasir dan batu cipping dari masyarakat. Sekarang kami sudah mulai kerja karena musim kemarau sudah masuk, dan pesta-pesta sudah selesai. Saya pastikan dua sampai tiga minggu ke depan sudah selesai,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Lembang (DPML) Tana Toraja, Maridha Bungin, saat dikonfirmasi terkait informasi ini, tampak terkejut dan menyatakan bahwa kondisi seperti itu tidak seharusnya terjadi.
“Taek na bisa, salah itu,” ujar Maridha dalam bahasa Toraja yang berarti “tidak bisa, itu keliru”. Ia menambahkan bahwa jika memungkinkan, ia akan turun langsung ke lokasi usai rapat untuk memverifikasi kondisi sebenarnya.







