Masalah ini memerlukan perhatian serius dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Perundungan tidak hanya memengaruhi hubungan sosial antar-remaja, tetapi juga dapat mengganggu perkembangan kepribadian, kesehatan mental, dan kemajuan pendidikan korban.
Dari perspektif psikologi, bullying bukan sekadar tindakan bercanda, perselisihan biasa, atau kenakalan remaja. Perilaku ini dapat berbentuk tindakan agresif yang dilakukan secara berulang, disertai ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban. Perilaku ini muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan fisik, pelecehan verbal, pengucilan sosial, dan intimidasi, hingga pelecehan digital atau perundungan siber (cyberbullying).
Andi Tajuddin, seorang dosen psikologi di Universitas Indonesia Timur, memandang perundungan/bullyingsebagai bentuk perilaku yang memerlukan pemahaman komprehensif. Penanganan yang efektif dan tepat tidak cukup hanya dengan menjatuhkan sanksi atau hukuman kepada pelaku, tetapi diperlukan pula upaya edukasi yang mendalami faktor-faktor psikologis yang mendasarinya, pola asuh keluarga, lingkungan pergaulan, serta budaya sosial.
Perundungan Bukan Sekadar Kenakalan Remaja
Dari perspektif psikologis, perilaku perundungan dapat dikaitkan dengan berbagai faktor, seperti proses pembelajaran sosial, kebutuhan akan pengakuan kelompok, kesulitan dalam pengaturan emosi, serta pola interaksi yang menganggap agresi sebagai hal yang wajar.
Teori pembelajaran sosial menyatakan bahwa individu dapat memperoleh perilaku tertentu melalui pengamatan dan peniruan terhadap orang lain. Jika seorang remaja sering menyaksikan kekerasan, hinaan, atau tindakan yang merendahkan orang lain tanpa adanya konsekuensi yang jelas, mereka mungkin akan menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang dapat diterima.
Di dalam kelompok teman sebaya, sebagian remaja mungkin melakukan perundungan untuk mendapatkan status sosial, menunjukkan dominasi, atau menarik perhatian kelompok. Ketika teman sebaya memberikan dukungan, menertawakan, merekam kejadian, atau menyebarluaskan rekaman perundungan tersebut, perilaku itu berisiko semakin diperkuat.
Oleh karena itu, penting untuk dipahami bahwa perundungan tidak bermula dari satu penyebab tunggal. Faktor individu, keluarga, teman sebaya, budaya sekolah, hingga lingkungan digital semuanya dapat saling berinteraksi dalam membentuk perilaku ini.
Dampak Psikologis terhadap Korban
Dampak perundungan tidak boleh diremehkan. Remaja yang mengalami perundungan dapat merasakan ketakutan, rasa malu, hilangnya kepercayaan diri, kesepian, serta kesulitan dalam membangun hubungan sosial.
Dalam jangka panjang, pengalaman menjadi korban perundungan dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko kecemasan, gejala depresi, gangguan tidur, penurunan kemampuan berkonsentrasi, dan berkurangnya motivasi akademik. Bagi sebagian korban, pengalaman tersebut bahkan dapat menimbulkan keengganan untuk bersekolah akibat rasa tidak aman yang terus-menerus.
Dampak yang dirasakan berbeda-beda pada setiap individu. Tingkat keparahannya dapat dipengaruhi oleh frekuensi perundungan, ketersediaan dukungan sosial, kondisi psikologis individu tersebut, serta sejauh mana lingkungan sekitar memberikan perlindungan.
Perundungan melalui media sosial dapat memperburuk dampak-dampak ini. Foto, video, atau komentar yang ditujukan untuk mempermalukan korban dapat menyebar dengan cepat, dilihat oleh banyak orang, dan muncul kembali jauh setelah peristiwa awal terjadi. Oleh karena itu, para korban membutuhkan perlindungan dan dukungan, bukan justru disalahkan, dianggap “terlalu sensitif”, maupun dianggap tidak mampu membela diri sendiri.
Mengapa Perundungan Terus Terjadi?
Salah satu tantangan besar dalam menangani perundungan adalah kecenderungan masyarakat untuk menganggapnya sebagai bagian yang wajar dari masa remaja. Ungkapan seperti “hanya bercanda”, “namanya juga anak-anak”, atau “itu justru melatih mental mereka” dapat membuat perilaku yang sebenarnya merugikan orang lain menjadi diabaikan.
Padahal, terdapat perbedaan yang jelas antara bercanda dan perundungan. Bercanda yang sehat tetap menghormati batasan pribadi, sedangkan perundungan melibatkan tindakan yang menimbulkan kerugian atau penderitaan bagi korbannya. Pengulangan tindakan dan ketimpangan kekuasaan merupakan ciri utama untuk mengenali perundungan—meskipun tindakan agresi yang serius tetap harus ditangani, bahkan jika belum terjadi secara berulang.
Selain itu, perundungan dapat terus terjadi ketika korban takut untuk angkat bicara, saksi memilih untuk diam, dan pihak sekolah tidak memiliki prosedur yang jelas dalam menangani kejadian semacam itu. Dalam situasi seperti ini, pelaku mungkin merasa bahwa tindakan mereka tidak akan mendatangkan konsekuensi apa pun.
Oleh karena itu, upaya pencegahan perundungan harus melibatkan seluruh komunitas pendidikan. Sekolah perlu membangun budaya yang tegas menolak kekerasan, menyediakan mekanisme pelaporan yang aman, serta memastikan bahwa setiap laporan diselidiki secara adil dan bertanggung jawab.
Peran Orang Tua dan Sekolah Sangat Penting
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi remaja untuk belajar empati, pengendalian emosi, dan penyelesaian konflik. Orang tua hendaknya memberikan contoh komunikasi yang penuh rasa hormat, menghindari penggunaan kekerasan sebagai metode pendisiplinan, serta membangun dialog terbuka agar anak merasa aman untuk menceritakan masalah yang sedang mereka hadapi.
Orang tua juga harus senantiasa peka terhadap perubahan perilaku anak. Remaja yang tiba-tiba menarik diri, enggan bersekolah, sering kehilangan barang pribadi, mengalami gangguan tidur, atau menunjukkan perubahan perilaku yang drastis mungkin sedang menghadapi persoalan yang memerlukan perhatian.
Di sisi lain, pihak sekolah harus memiliki kebijakan yang jelas terkait pencegahan dan penanganan perundungan. Para guru dan staf kependidikan perlu dibekali kemampuan untuk mengenali tanda-tanda perundungan, menindaklanjuti laporan, melindungi korban, serta menerapkan pendekatan yang konstruktif dalam menangani perilaku pelaku perundungan.
Intervensi tidak boleh berhenti hanya pada pemanggilan orang tua atau pemberian sanksi. Sekolah wajib melakukan pemantauan berkelanjutan, menyediakan dukungan psikologis jika diperlukan, serta memastikan bahwa korban tidak mengalami intimidasi lebih lanjut atau tindakan balas dendam setelah berani melaporkan kejadian yang dialaminya.
Remaja Perlu Belajar Empati dan Tanggung Jawab
Dari perspektif psikologi perkembangan, masa remaja merupakan periode krusial untuk membentuk jati diri, mengelola emosi, dan membangun hubungan dengan teman sebaya. Pada tahap ini, penerimaan oleh teman sebaya bisa menjadi hal yang sangat penting bagi seorang remaja.
Oleh karena itu, pendidikan karakter dan keterampilan sosial menjadi sangat vital. Remaja perlu memahami bahwa perbedaan dalam penampilan fisik, latar belakang keluarga, status ekonomi, kemampuan akademik, atau karakter pribadi bukanlah alasan untuk merendahkan orang lain.
Pihak yang menyaksikan perundungan (bystander) juga memegang peranan penting. Mereka dapat membantu dengan cara tidak ikut memojokkan atau menertawakan korban, menolak untuk menyebarkan rekaman perundungan tersebut, memberikan dukungan kepada korban, serta melaporkan kejadian itu kepada orang dewasa yang terpercaya.
Akan tetapi, para saksi tidak perlu merasa berkewajiban untuk menghadapi pelaku secara langsung jika tindakan tersebut justru membahayakan keselamatan mereka sendiri. Melaporkan kejadian melalui saluran yang aman dan mencari dukungan dari pihak sekolah merupakan langkah yang lebih tepat dalam situasi yang berbahaya.
Intervensi Harus Mengutamakan Perlindungan dan Perubahan Perilaku
Menangani bullying memerlukan pendekatan yang seimbang. Korban harus diberikan perlindungan, sementara pelaku harus dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka dan dibimbing untuk memahami dampak dari perilaku mereka.
Intervensi psikologis dapat mencakup konseling, pelatihan pengendalian emosi, pengembangan empati, pelatihan resolusi konflik, dan pelibatan keluarga. Untuk kasus yang melibatkan masalah psikologis yang lebih kompleks, evaluasi oleh tenaga profesional yang kompeten dapat dipertimbangkan.
Pendekatan restoratif dapat diterapkan secara hati-hati, asalkan sesuai dengan situasi spesifik dan menjamin keselamatan korban. Namun, korban tidak boleh dipaksa untuk berdamai, bertemu dengan pelaku, atau menerima permintaan maaf sebelum mereka merasa aman.
Dalam kasus yang melibatkan ancaman serius, kekerasan fisik, pemerasan, atau penyebaran konten yang merugikan, perlindungan dan intervensi segera sesuai dengan peraturan yang berlaku harus diutamakan.
Membangun Lingkungan yang Aman bagi Remaja
Masalah bullying merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah harus memperkuat kebijakan perlindungan anak dan remaja, sekolah wajib menjamin lingkungan belajar yang aman, orang tua perlu memberikan pengasuhan yang suportif, dan masyarakat harus menghentikan kebiasaan menormalisasi kekerasan.
Media sosial juga harus digunakan secara bertanggung jawab. Merekam atau menyebarluaskan video perundungan demi mencari perhatian atau popularitas hanya akan memperparah penderitaan korban. Pengguna media sosial perlu memahami bahwa tindakan di dunia digital memiliki dampak nyata bagi orang lain, khususnya bagi para korban.
Keberhasilan pencegahan perilaku bullying tidak hanya diukur dari penurunan jumlah laporan, tetapi juga dari meningkatnya rasa aman di kalangan remaja, keberanian untuk angkat bicara, kepedulian antar-teman sebaya, serta kemampuan lingkungan institusi pendidikan dalam merespons setiap kejadian secara cepat, tepat, dan bijaksana.
Perilaku bullying bukanlah masalah sepele yang bisa dianggap sekadar kenakalan remaja. Perilaku ini perlu penanganan secara serius melalui edukasi psikologis, pembentukan karakter, perlindungan korban, dan rehabilitasi pelaku.
Mewujudkan generasi muda yang sehat secara psikologis berarti menciptakan lingkungan yang menghargai martabat manusia, merangkul perbedaan, dan menolak segala bentuk kekerasan. Upaya semacam itu harus dimulai dari lingkungan keluarga, diperkuat di sekolah, dan dijunjung tinggi secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat.