“Apakah Panji punya data empiris terkait orang Toraja yg jatuh miskin karena acara kematian?,” Terang Kristian H.P. Lambe’.
TATOR, PEDOMANINDONESIA – Komika nasional, Pandji Pragiwaksono, saat ini tengah menjadi sorotan dan menuai protes keras dari masyarakat Suku Toraja setelah video penampilannya di atas panggung komedi menyebar luas di media sosial. Pernyataan Pandji dinilai telah melecehkan nilai-nilai luhur budaya dan tradisi Toraja, khususnya upacara pemakaman adat Rambu Solo’. Minggu, 2 November 2025.
Dalam potongan video yang viral tersebut, Pandji membahas upacara adat Toraja dengan nada komedi yang dianggap merendahkan. Salah satu pernyataan yang memicu kemarahan adalah ketika ia mengungkit praktik penundaan pemakaman dan keberadaan jenazah yang disimpan di rumah karena alasan biaya.
“Dan banyak yang ga punya duit untuk makamin, akhirnya jenazahnya dibiarin aja gitu. Ini praktik umum. Jenazahnya ditaruh aja di ruang TV di ruang tamu gitu,” sebutnya dalam video, yang disambut tawa penonton namun menuai gelombang kecaman di luar panggung.
Bagi masyarakat Toraja, upacara Rambu Solo’ bukan sekadar ‘pesta kemewahan’ atau ajang pamer, melainkan bentuk penghormatan terakhir yang sakral kepada mendiang. Rambu Solo’ mencerminkan nilai-nilai mendalam tentang kekerabatan, gotong royong, solidaritas sosial, dan penghargaan terhadap siklus kehidupan dan kematian. Jenazah yang disimpan di rumah (to makula) diperlakukan layaknya orang sakit yang harus dirawat sebelum prosesi pemakaman resmi dilaksanakan.
Berbagai komunitas, tokoh adat, dan pemerhati budaya Toraja kini bersatu menyerukan agar Pandji Pragiwaksono segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan resmi kepada seluruh masyarakat Toraja.
“Pernyataan ini telah melukai hati kami. Tradisi kami adalah warisan leluhur yang harus dihormati, bukan dijadikan bahan lelucon untuk hiburan,” ujar Andika Manglo Barani salah satu perwakilan tokoh pemuda Toraja.
Senada dengan itu, Dr. Kristian H.P Lambe’, mantan anggota DPRD Tana Toraja 3 Periode sekaligus akademisi menyampaikan bahwa yang menjadi pemicu adalah statement bahwa “orang Toraja jatuh miskin karena Upacara kematian (rambu solo’)”.
Hal ini menurutnya bisa menjadi kritik sosial yg berlebihan atau hiperbola mengenai biaya upacara yg besar.
“Apakah Panji punya data empiris terkait orang Toraja yg jatuh miskin karena acara kematian?,” ungkap Kristian.
“Faktanya, orang Toraja punya perencanaan yang matang dan realistis dalam pelaksanaan kegiatan rambu solo’, seperti pembentukan panitia oleh keluarga untuk membicarakan waktu pelaksanaan, berapa biaya yang dibutuhkan, siapa2 saja yg terlibat dalam kegiatan terebut, dll,” jelas Kristian Lambe’
Hingga berita ini diturunkan, desakan permintaan maaf terus bergulir di media sosial, menuntut klarifikasi dan pertanggungjawaban dari sang komika atas dampak negatif yang ditimbulkan dari materi komedinya tersebut.
Bahkan banyak yang menyuarakan agar pihak berwajib segera bertindak karena hal tersebut telah membuat kegaduhan dan terang-terangan menghina adat dan budaya suku tertentu.
Ada pula yang meminta agar Pandji di hukum dengan sanksi adat Toraja.











