TORUT, PEDOMANINDONESIA – Dalam upaya mewujudkan masyarakat Sa’dan yang maju dan makmur menuju Indonesia Emas 2045, UPT Puskesmas Sa’dan Malimbong terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara layak. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Puskesmas (Kapus) Sa’dan Malimbong, drg. Herlina Sibulo, saat ditemui di ruang kerjanya pada Senin (23/08/2026).
Visi dan Misi Puskesmas Sa’dan Malimbong
-
Visi: Terwujudnya masyarakat Sa’dan yang maju, makmur, dan menyenangkan menuju Indonesia Emas 2045.
-
Misi:
-
Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Sa’dan melalui pelayanan yang bersinergi dengan lintas sektor terkait, serta promosi dan edukasi kesehatan.
-
Membangun kemandirian kesehatan masyarakat melalui pelayanan gratis, Pendekatan Keluarga, dan perbaikan siklus kehidupan.
-
Menciptakan lingkungan pelayanan yang ramah, bermutu, berkualitas, menyenangkan, dan inovatif.
-
Meningkatkan kualitas pelayanan melalui penguatan kapasitas petugas sesuai kompetensi masing-masing.
-
Tata Nilai “ASTA_SI” dan Motto
Puskesmas Sa’dan Malimbong mengusung tata nilai “ASTA_SI” (8-SI) yang meliputi: Komunikasi, Informasi, Koordinasi, Edukasi, Integrasi, Sinkronisasi, Transformasi (layanan primer terintegrasi melalui ILP), dan Kompetensi.
Seluruh tata nilai ini dibingkai dalam motto “BERLARI CEPAT” (Berkarya, Melayani, Prima dengan Cerdas, Cekatan, Cepat, Tepat, dan Tuntas).
Inovasi “Paspor ke Jamayka” untuk Penanganan ODGJ
Selain pembenahan internal, Puskesmas Sa’dan Malimbong konsisten memperbarui inovasi berbasis masyarakat. Salah satu program unggulan yang berjalan sejak 2022 adalah “Paspor ke Jamayka”, yang digagas oleh Surianti Todingbua, S.Kep., Ns.
Tim Paspor ke Jamayka bertugas untuk:
-
Melakukan kunjungan rumah bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang berperilaku kekerasan atau mengganggu ketertiban umum.
-
Membantu petugas medis dalam tindakan penanganan (restraint/fiksasi).
-
Merujuk ODGJ ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL).
-
Melakukan pelaporan, dokumentasi, dan edukasi kepada keluarga agar tidak menelantarkan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.
Tim lintas sektor ini melibatkan keterlibatan masyarakat, Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta tim tenaga kesehatan Puskesmas.
Penurunan Kasus Penanganan ODGJ Mengamuk
Menurut drg. Herlina Sibulo, inovasi ini terbukti efektif menjaga ketenteraman warga. Sejak 2024 hingga 2026, jumlah insiden ODGJ mengamuk turun drastis menjadi hanya 2 kejadian. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya tercatat hingga 6 kasus yang sempat merusak fasilitas umum seperti gereja serta mengganggu proses belajar-mengajar di sekolah.
“Harapan kami, tim ini tetap eksis sebagai bagian dari pelayanan publik dan Desa Siaga Aktif. Kami juga berharap inovasi ini dapat dikembangkan serta direplikasi di daerah lain yang membutuhkan penanganan serupa,” pungkas drg. Herlina.












